"Apakah (kamu) merayakan hari valentin?" Tanya seorang sahabat, Kim, via bbm.
"Enggak," kata saya, datar.
Pada 14 Februari kemarin, tidak ada perayaan valentin. Seiring bertambahnya umur, pemaknaan terhadap hari valentin pun berubah. Berkasih sayang terhadap hal-hal spesial, bisa dilaksanakan setiap hari, tidak perlu menunggu hari valentin. "Pengerdilan cinta" kalau meminjam istilah teman saya.
Namun, bukan berarti saya tidak pernah merayakannya. Pengalaman valentin yang berkesan justru terjadi saat SMA kelas 1. Itu berarti 10 tahun yang lalu...
Saya ikut merayakan hari valentin bersama para sahabat. Saat itu, kami kompak memakai pakaian atau aksesori berwarna ungu. Bisa dibilang kami melakukan gerakan antivalentin. Di sekolah, nuansa perayaan valentin sangat terasa karena menjamurnya penjual bunga dan cokelat dadakan. Warna serbapink dan merah betebaran.
Bunga dan cokelat dari sahabat saya menjadi hadiah spesial. Bukan karena dua benda itu yang bernilai, melainkan "perjuangan" sahabat saya itu untuk memberikannya kepada saya pada malam hari.
Selain itu, beberapa hari sebelum hari-H, saya sempat menulis pesan khusus untuk seseorang yang nantinya akan dipajang di majalah dinding (mading) sekolah.
Isinya masih saya ingat karena merupakan kutipan dari film "Patch Adams". (Norak banget dan sok romantis :p)
To A cute boy at 3ipa2
"I love you without knowing how, or when, or from where." from Lychee girl 1-5
Ahhh... so sweet. Saat menulisnya, jantung saya berdebar-debar.
Lebih berdebar lagi saat saya dan sahabat memotret cowok bertopi nike warna biru tua itu secara diam-diam. Saat akan dicetak, negatif filmnya terhapus. Hehehe...Bukan rezeki.
Kisah pun berlanjut. Kakak kelas pujaan itu akhirnya mengetahui kalau saya menyukainya. Malu. saya pun sering salah tingkah sendiri kalau melihat dia sedang beredar di sekitar kelas. Bagai hujan petir di siang hari ketika mengetahui kami berbeda keyakinan (agama). Saya mulai menjaga jarak alias menghindar. Mungkin hingga kini, ia tak tahu alasan saya memalingkan wajah saat mata kami bertemu. Saya mengalami defense mechanism yang akut. Maaf.
Baru tahu. Ternyata penggalan dialog itu masih ada terusannya.
I love you straightforwardly without complexities or pride. I love you because I know no other way then this. So close that your hand, on my chest, is my hand. So close, that when you close your eyes, I fall asleep.
Sejarah terus berulang....zZzzzZZZZ...